BERITA

Predikat Terbaik dan Terinspiratif untuk Sumbawa dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi

Sabtu, 24 Agustus 2019   admin   991  

Penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak. Stunting mempengaruhi perkembangan otak sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal. Hal ini berisiko menurunkan produktivitas pada saat dewasa. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit. Anak stunting berisiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya.

Mengacu pada “The Conceptual Framework of the Determinants of Child Undernutrition”, “The Underlying Drivers of Malnutrition” , dan “Faktor Penyebab Masalah Gizi Konteks Indonesia”  penyebab langsung masalah gizi pada anak termasuk stunting adalah rendahnya asupan gizi dan status kesehatan. Penurunan stunting menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan). Keempat faktor tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.

Dampak dari stunting diantaranya yakni dalam jangka pendek, stunting menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme.dan dampak  jangka panjang, stunting menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual. Gangguan struktur dan fungsi saraf dan sel-sel otak yang bersifat permanen dan menyebabkan penurunan kemampuan menyerap pelajaran di usia sekolah yang akan berpengaruh pada produktivitasnya saat dewasa. Selain itu, kekurangan gizi juga menyebabkan gangguan pertumbuhan (pendek dan atau kurus) dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung kroner, dan stroke.

Upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan. Penurunan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh, yang harus dimulai dari pemenuhan prasyarat pendukung. Kerangka konseptual Intervensi penurunan stunting terintegrasi

Pemerintah kabupaten/kota diberikan kesempatan untuk berinovasi untuk menambahkan kegiatan intervensi efektif lainnya berdasarkan pengalaman dan praktik baik yang telah dilaksanakan di masing-masing kabupaten/kota dengan fokus pada penurunan stunting. Target indikator utama dalam intervensi penurunan stunting terintegrasi adalah:1). Prevalensi stunting pada anak baduta dan balita.2).        Persentase bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 3)         Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita. 4). Prevalensi wasting (kurus) anak balita. 5)Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif. 6). Prevalensi anemia pada ibu hamil dan remaja putri. 7). Prevalensi kecacingan pada anak balita. 8). Prevalensi diare pada anak baduta dan balita. Melalui kesempatan tersebut Pemerintah Provinsi  bekerjasama dengan Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (Konsepsi) NTB dan SNV Netherlands Development Organization melaksanakan penilaian Kinerja Kabupaten dalam Upaya Pencegahan dan Penurunan Stunting kegiatan tersebut diselenggarakan bertempat di Hotel Grand Legi Mataram pada tanggal 20-22 agustus 2019.  Pada acara tersebut  Kabupaten Sumbawa pada mendapat predikat sebagai  ”Kabupaten Terbaik dan terinspiratif dalam upaya menurunkan Angka Stunting”. Predikat tersebut diberikan pada acara penilaian Kinerja Kabupaten dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi di NTB yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi NTB. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, angka stunting di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2017 berdasarkan hasil pemantauan status gizi Bappenas dan Kemenkes RI, menempati urutan tertinggi dari 10 Kab/Kota di NTB yakni mencapai 41,92 persen. Namun pada tahun 2018, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, angka tersebut turun menjadi 31,53 persen. Adapun data yang diperoleh dari Pekan Penimbangan, dimana semua balita di Kabupaten Sumbawa diukur dan ditimbang, stunting di Kabupaten Sumbawa turun signifikan menjadi 11,87 persen pada Bulan November 2018.

  • Share on :

  • Berita Lainnya
  • Sumbawa Hijau Lestari Dimulai, Inovasi Daerah Didorong Jadi Penggerak Pembangunan

    Pemerintah Kabupaten Sumbawa menggelar rangkaian kegiatan yang memadukan peluncuran Gerakan Penanaman Pohon dengan penguatan ekosistem inovasi melalui Seminar Innovation Hub dan pengumuman pemenang LIDA 2025. Kegiatan ini menjadi momentum kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pembangunan daerah yang hijau, inovatif, dan berdaya saing.

    Pemkab Sumbawa Perkuat Program Pembangunan Terpadu: Penurunan Stunting, Penguatan Ekonomi, dan Akselerasi Kawasan Samota

    Pada hasil Interview bersama media SelarasNews.id, Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo membicarakan beberapa program strategis yang dijalani oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, mulai dari Penurunan Stunting, Penguatan Ekonomi, hingga Akselerasi Kawasan Samota.

    Wujudkan Koperasi Merah Putih Pemda Sumbawa, Siapkan Lahan dan Gerai

    Sumbawa, SelarasNews.id -Dalam mewujudkan Koperasi Merah Putih (KMP) Pemerintah Kabupaten Sumbawa saat ini sedang menyiapkan lahan dan gerai. β€œSaat ini kami memiliki banyak model lahan baik itu yang dimiliki pemda maupun desa yang sedang diproses administrasinya sehingga memenuhi administrasi pengelolaan aset,” ungkap Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo, saat ditemui media ini di ruang kerjanya pada Rabu, (10/12).